Thursday, August 30, 2007

Kamera Pocket untuk Memotret Makro

Berikut akan saya coba berikan satu trik untuk satu tingkat memaksimalkan penggunaan pocket camera lebih khusus dalam sesi pemotretan jarak dekat (makro/mikro).

Trik ini tidak harus meng-"hack" maupun men-disfigure salah satu peralatan yang ada di dalam kamera, seperti yang biasa dilakukan untuk kamera kelas SLR. (caranya memalfungsikan salah satu peralatan /salah satu jeroan kamera biasanya dilakukan oleh yang ahlinya contohnya untuk memaksimalkan sesi pemotretan IR (InfraRed), mereka melepas IR blocking filter di kameranya dan menggantinya dengan IR pass filter.
Namun itu semua tentu ada konsekuensinya yaitu: kamera tersebut tidak bisa lagi digunakan untuk potografi konvensional.
..
Untuk memaksimalkan pengambilan gambar makro (bahkan lebih bagus lagi misalnya sampai serat kainpun terlihat jelas sekali), maka untuk jenis pocket (eksperimen saya menggunakan merk Orite 3 Mpix) dibutuhkan sebuah alat bantu.



Nah alat bantu ini biasanya banyak didapatkan di tempat2 service mesin fotocopy, atau bahkan penjualan barbek (barang bekas) khusus foto copy. Saya sendiri nggak tahu pasti dibagian mana sebenarnya alat ini menempel di mesin fotocopy.
Namun menurut perkiraan saya, ini adalah sebagai alat untuk membesarkan hasil fotocopy dan letaknya tepat dibawah kaca untuk meletakkan dokumen.
Kalau melihat bentuknya, mungkin saja rekan2 bisa membuatnya sendiri atau dengan alat lain yang kurang lebih fisiknya seperti yang saya pakai eksperimen. Selongsong yang ujungnya ada kaca cembung ini terbuat dari sejenis plastik tahan panas.

Kelemahan dari trik ini ialah tidak bisa mengambil gambar utuh untuk ukuran besar tertentu (mungkin kalau lensanya besar bisa kali ya,,,,).
Namun sebaliknya "sangat bisa" untuk mengambil detail objek atau binatang kecil misalnya : serangga, lalat, nyamuk dan yang super kecil . (hampir mirip lihat object dengan mikroskop kali ya..... :) )

caranya : Mudah sekali,,,
1. Set kamera ke makro, ( atau kalau mau eksperimen, ga makro juga ga apa... ) dan Letakkan alat tersebut menempel menutupi lensa . (bagian lensa di alat tersebut ada dibagian luar !)



2. Kalau ga mau repot, alat tersebut rekatkan saja dengan selotip jadi lebih leluasa mengambil object. (beberapa foto disini saya ambil dengan cara saya pegang :) soalnya lebih mudah untuk mengikuti objek dan kalau cahaya membias ke dalam alat ini lebih mudah menggesernya.
Walaupun pada akhirnya kalau hasil foto terkena bias sinar saya lakukan crop. Toh yang penting POI and detail object-nya kena.

3. Lihat objek di LCD, (seperti biasa shutter ditekan setengah kan..) sampai mendapatkan objek yang diinginkan atau sampai terlihat yang paling fokus dan detail yang diinginkan, lalu......jret!! selesai...
Ehh..lebih baik kalau pake pocket,,suara peniru bunyi jepretan di nonaktifkan aja....(selain terasa aneh juga bisa hemat battery kalau di nonfungsikan/walaupun dikit kan lumayan. Belum lagi kalau objeknya kabur gara2 dengar bunyi aneh....ya kan..)
Karena pakai bantuan lensa (konvensional! :)), maka yang aktif ialah kita sendiri yang me-maju mundurkan kamera. (kalau pakai zoom kayaknya malah bikin ribet deh ngatur fokusnya, lebih baik deketin objek langsung aja.)
Agak susah dikitlah.... soalnya kan ga pakai tripod. Kalau mo pakai tripod jangan lupa shoot-nya pakai timer ya, biar gambarnya ga meleleh-leleh.... :)

4. Khusus moto lalat, dan sebangsanya yang terkenal liar , biasanya saya "siksa" dulu biar agak teler. Kan lebih mudah motonya ...:).....................jangan ditiru ya....dosa..
kalau pas baik hati ya....terpaksa mengendap-endap lalu pelan2 deketin objek (biasanya untuk serangga terbang yang kurus, agak transparan, dan kecil..., juga jarang ketemu kalau pas dicari :).

5.Bantuan Pencahayaan : mutlak!,
Bisa pakai bantuan kreasi yang ada di artikel lain (lampu makro) .pakai lampu led bright white (putih), atau sinar matahari langsung. Saya lebih suka dengan bantuan cahaya matahari pagi.

6.Ga perlu lensa tele,,,,,,belakangnya udah blur sendiri :) :) asyik kan..

7.Mungkin ini yang terakhir, pas motret, lihat objeknya jangan pakai viewfinder!!! nanti pusing toejoeh keliling,, soalnya bisa ga sampai 1 cm loh kadang2 jarak objek dg lensa.
Jadi untuk kebaikan bersama, pakailah selalu LCD monitor untuk foto makro anda...tentunya kalau pakai bantuan barbek...:) :)
Hidup pocket kamera!!!!
tapi aku mulai suka SLR ding...! :)

hasil photonya contohnya begini : (seperti foto sblmnya,: tanpa oldig sama sekali)




Wednesday, August 1, 2007

Tips Foto Pernikahan



Mengabadikan saat-saat penuh bahagia di hari pernikahan pastilah menjadi bagian tak terpisah dari rangkaian acara di hari istimewa Anda. Setiap momen penuh arti diabadikan dalam bentuk video maupun foto. Jika Anda memutuskan untuk menggunakan jasa fotografi sebagai salah satu media mengabadikan kebahagian, berikut adalah tips yang mudah-mudahan bisa menjadi pengetahuan tambahan mengenai fotografi bagi Anda.

1. Paket dengan harga mahal bukan jaminan bahwa Anda akan mendapat kualitas baik. Kualitas karya fotografi tidak melulu dikaitkan dengan besarnya biaya yang harus dikeluarkan, kok. Jika Anda bijak memilih, syukur-syukur kalau Anda juga mengetahui setidaknya sedikit hal dasar mengenai fotografi Anda akan lebih jeli mencari studio atau fotografer yang tidak membuat budget pernikahan Anda di luar batas.

2. Paket yang murah. Hei, seorang teman yang menyukai fotografi mengatakan bahwa fotografi bukan produk generik. Jadi Anda jangan langsung memilih produk dengan harga sangat murah dan di bawah rata-rata tanpa mempedulikan kualitasnya. Adalah benar bahwa yang mahal belum tentu menawarkan kualitas terbaik, namun jangan jadi langsung asal pilih yang paling murah. Perhatikan betul kualitasnya jika harga yang ditawarkan ternyata di bawah rata-rata.

3. Foto Studio. Jika Anda memilih untuk berfoto di studio foto yang memiliki lebih dari satu fotografer, pastikan Anda mengetahui benar hasil karyanya. Anda dapat memilih dan menentukan fotografer mana yang ingin Anda ajak bekerja sama. Sebelum hari pemotretan tiba, sempatkan bertemu dulu dengan sang fotografer. Foto Anda selain akan menjadi bagian dari dokumentasi juga akan menjadi karya seni, karenanya chemistry dan kesepahaman antara Anda, pasangan, dan sang fotografer harus dibangun dulu sebelum pemotretan dilakukan. Ini juga berguna untuk mengetahui gaya yang sesuai untuk Anda dan pasangan.

4. Hitam & Putih. Jika foto hitam putih menjadi pilihan Anda, tips berikut ini perlu Anda simak. Pastikan bahwa sang fotografer akan menangani langsung foto Anda tersebut. Hampir tak mungkin mendapatkan hasil cetak foto hitam putih yang berkualitas kecuali sang fotografer menanganinya sendiri. Dengan teknologi digital yang sekarang banyak diterapkan dalam dunia fotografi, pastikan juga bahwa Anda menyetujui rentang warna pada foto Anda. Detail pada area yang paling ingin ditonjolkan, dan shadow pada latar belakang sangat perlu diperhatikan dengan detail sebelum Anda menyetujui untuk mencetak foto tersebut.

5. Pencahayaan. "Payung" dan kotak-kotak yang terdapat di studio dimanfaatkan untuk membuat pencahayaan yang lebih lembut. Untuk itu Anda harus menyimak betul penampilan Anda sebelum dipotret. Perhatikan apakah gradasi putih gaun pengantin Anda akan terlihat cukup tajam nantinya, untuk ini yang mesti Anda lakukan adalah bercermin pada kaca tiga dimensi, tidak hanya pada cermin datar yang biasa Anda lakukan.

6. Negatif foto. Sehalus mungkin tolak "ajakan" fotografer yang menawarkan negatif foto sebagai bonus saja. Jika Anda ingin memperbesar ukuran foto dari format medium menjadi ukuran kanvas lukisan, misalnya, pastikan juga Anda mencetak negatif foto di studio profesional. Perlu kesabaran tentu saja, dan juga biaya lebih, namun hal itu cukup berharga, kok untuk mengenang hari bahagia Anda.

7. Kontrak. Jika Anda membuat perjanjian mengenai foto, misalnya jumlah foto yang akan Anda terima, apakah Anda juga akan mendapatkan foto Anda dalam bentuk CD atau tidak, jangan hanya menaruh kepercayaan pada ucapan saja. Pastikan bahwa Anda dan pasngan membuat perjanjian tertulis dengan studio atau fotografer perorangan yang akan mengabadikan kenangan Anda dan pasangan. Bentuk perjanjian tertulis paling sederhana adalah bukti pembayaran dengan rincian produk dan layanan yang akan Anda terima sebagai konsumen mereka.

8. Saran terakhir, sebaiknya, sih Anda lebih memilih fotografer penuh waktu. Bukan berarti fotografer paruh waktu tidak berkualitas, bukan sama sekali. Hanya saja ada kecenderungan orang yang mengabdikan diri dengan total dalam pekerjaannya menghasilkan karya yang lebih baik. Kecuali jika Anda yakin bahwa fotografer paruh waktu yang Anda inginkan memang berkualitas.

Kini, siapkan diri Anda dan pasangan, dan abadikanlah pernikahan Anda!

Tele-Converter dan Wide-Angle-Converter untuk Kamera Digital

(Tele-Converter) sehinnga mungkin menmfoto dari jarak yang sangat jauh.


Masa sekarang sangat banyak yang memakai Digital Kamera atau dari analog ke Digital Kamera. Digital kamera mempunyai banyak kelebihan seperti foto hasilnya bisa langsung dilihat di computer, kecil dan praktis, tidak usah membeli film, dan masih banyak lagi.
Banyak semi profi atau hanya hobby fotografer yang merasa kekurangan dari digital kamera.

Jika ingin memfoto jarak jauh atau memfoto pemandangan, merasa para fotografer suatu kekurangan dari All in One Digital Kamera, yaitu Objektiv yang tidak bisa ganti, biasanya sekitar dari 35mm - 100mm. Oleh karena itu muncul Converter untuk digital kamera. Sebuah Converter memungkin Objektiv dari digital kamera diperkecil (Wide-Angled- Converter) sehingga bisa mengambil gambar yang lebih lebar daripada tanpa converter atau dengan Objektiv dari kamera diperbesar (Tele-Converter) sehinnga mungkin menmfoto dari jarak yang sangat jauh.

Timbul pertanyaan, apakah bagus dengan tambahan Converter, bagaimana dengan warna dan kualitas dari fotonya. Beberapa minggu yang lalu saya mempunyai pertanyaan yang sama juga. Saya mencoba bertanya di forum dari fn, mencari-cari artikel di internet, membaca majalah-majalah foto untuk mencari jawabannya.

Setelah saya mengumpulkan informasi-informasi yang saya perlukan, saya pergi ketoko-toko foto untuk mencoba beberapa Converter. Saya bisa membawa beberapa converter kerumah untuk lebih jelas dicoba pada digital kamera saya. Dan dengan pengalaman ini, saya mencoba menulis artikel untuk menbagi pengalaman saya dengan teman - teman lain di fn.

Tentang Converter
Seperti yang saya jelaskan pada kata pembuka, ada 2 jenis Converter untuk digital Kamera:

 Wide-Angle-Converter : digunakan untuk menghasilkan foto yang lebih lebar. Dipasaran tersedia untuk converter jenis ini, converter dengan faktor pembesar 0,25 sampai 0,7. Dengan Faktor ini meningkat kemampuan digital kamera dalam bidang wide-angled sampai 9mm.

 Tele-Coverter: digunakan untuk mengambil foto dari jarak yang jauh.Dipasaran tersedia untuk converter jenis ini, converter dengan factor pembersar 1,4 sampai 2.0. Dengan Faktor ini meningkat kemampuan digital kamera dalam bidang telefoto sampai 500mm.

Untuk memakai Converter ini harus sebuah digital kamera yang mempunyai sambungan yang memungkinan penambahan alat tambahan pada objektivnya. Pada umumnya pembuat digital kamera menawarkan Converter untuk produktnya, seperti Fuji, Canon, Sony, Olympus, atau Nikon, tapi untuk haraga yang sangat mahal. Dipasaran banyak perusahaan lain yang membuat Converter untuk digital Kamera, seperti Soligor, Digital Optics, Hama, Kenko, dan lain lain, perusahaan-perusahaan ini menawarkan alternativ yang lebih murah untuk Converter. Converter ini bisa dipasang langsung ke objektiv digital kamera jika sambungannya pas, atau menggunakan adapter yang banyak dijual dipasaran atau ikut dikirimkan bersama converter.

Hasil Test

Untuk test saya memakai Digital Kamera Fuji S304 dan beberapa Converter dari berbagai perusahaan. Banyak perbedaan hasil dari setiap Converter, ada yang menurunkan kualitas gambar, ada yang mempucat warna, ada yang menimbulkan bayangan. Dari semua Test dan hasil yang saya coba, ada beberapa Converter yang menghasilkan foto yang setidaknya bagus contohnya dari perusahaan Soligor. Saya mengambil kesimpulan dari Test ini, biasayan pada bagian Wide-Angle –Converter Faktor pembesar dibawah 0,66 sangat tidak dianjurkan, sampai faktor 0,66 gambar yang dihasilkan oleh semua converter masih bagus tapi dibawah faktor ini rata-rata ada perubahan kualitas atau bayangan dari foto yang dibuat. Untuk Tele dianjurkan tidak lebih dari Faktor 1,5, karena diatas itu biasanya tidak bisa digunakan, buram, atau warnanya benar benar berubah.

Tapi test ini hanya menggunakan satu model kamera, jadi untuk kamera yang lain, atau Converter dari perusahaan lain, saya anjurkan anda mencoba dulu di toko foto. Cobalah ditempat penjual mengambil beberapa foto dari maximal factor sampai minimal faktor, lalu bandingkan satu sama lain danbandingan dengan hasil tanpa Converter.

Saturday, July 21, 2007

Pengetahuan Dasar Kamera Digital

Apa yang dimaksud dengan Digital?Sebelum kita membahas apa itu kamera digital, mungkin kita bisa mencoba mengerti dulu apa sih yang dimaksud dengan Digital? Bagi yang belum tahu, dunia kita ini semuanya adalah analog. Bisa dibilang manusia mengenal digital tidak terlalu lama. Dahulu kala semua mesin dan peralatan mesin dijalankan secara analog, bahkan sampai sekarang pun masih banyak mesin yang masih menjalankan system analog. Contoh terutama adalah kamera anda sendiri. Lensa anda memakai teknologi mekanik. Meski demikian kamera yang memakai film sebagian besar pasti mempunyai bagian yang memakai teknologi digital. Jika kamera itu mempunyai panel LCD, sudah pasti itu merupakan teknologi digital. Menurut saya "Digital is the future", mau tidak mau kita tidak bisa menghindar bahwa semua yang ada di sekitar kita akan memakai teknologi digital.Apa yang dimaksud dengan Kamera Digital?Saya rasa semua orang pasti pernah melihat kamera. Kalau tidak mana mungkin anda mengunjungi site ini. Tapi mungkin saja sebagian dari anda yang belum pernah memegang kamera digital (tidak bermaksud mengejek). Secara penampilan kamera digital mirip dengan kamera biasa (jenis film), perbedaan terbesar kamera digital tidak memakai film. Lupakan lah pergi ke toko membeli film setiap kali anda mau pergi memotret. Kamera digital tidak memerlukan film sama sekali. Ini semua diganti dengan media penyimpan yang bisa dihapus ulang, layaknya disket komputer. Nah disket komputer khan mempunyai kapasitas sendiri, sama juga dengan memory kamera ini. Sizenya dari 8MB sampai ke 4GB (4000 MB), data ini valid pada saat Dec 2003. Formatnya pun bermacam-macam, sebagai contoh: Compact Flash (Type 1 dan 2), SD card, MMC card, Memory Stick (Khusus kamera Sony), Disket, CDR. Satu hal yang pasti dari adanya media seperti ini, anda bisa menghemat biaya karena media ini bisa dipakai berkali-kali.Mari kita masuk ke bagian teknikal dari kamera digital ini. Pertanyaan.... bagaimana kamera digital menangkap cahaya yang masuk dari lensa? Cahaya ini tidak ditangkap oleh memory (lihat atas), kerja memory hanya menyimpan gambar yang sudah diproses. Cahaya yang masuk sebenarnya ditangkap oleh CCD sensor atau CMOS sensor. CCD (Charged Coupled Device) dan CMOS (Complementary Metal Oxide Semiconductor) adalah suatu chip yang terletak tepat di belakang lensa anda. CCD Sensor (Tidak sesuai ukuran asli). Ukuran asli jauh lebih kecilUntuk kebanyakan kamera digital di pasaran chip ini kecil sekali, lebih kecil dari ukuran film 35mm. Pada saat ini hanya satu kamera saja yang mempunyai sensor sebesar 35mm yaitu Canon 1Ds. Jadi untuk kamera digital, sensor inilah yang dimaksud dengan film. CCD dan CMOS adalah 2 teknologi yang umum digunakan di dalam kamera. Umumnya kamera yang ada di pasaran menggunakan CCD sensor. Masih ada satu jenis chip yang dinamakan X3 sensor, tapi ini masih belum umum digunakan karena masih mahal harganya dan kualitas photo yang dihasilkan masih tidak terlalu berbeda dengan 2 sensor yang saya utarakan sebelumnya. Setiap kali anda membeli kamera pasti ditanya mau beli yang berapa megapixel, tahukan anda megapixel disini adalah jumlah pixel pada CCD atau CMOS sensor anda. Jadi kalau anda mempunyai 4 MegaPixel camera, berarti CCD sensor anda mempunyai sekitar 4,000,000 pixel. Satu pixel itu sangat kecil, dan satu pixel itu hanya menangkap satu jenis warna. Jika sensor diatas diperbesar sampai pixelnya terlihat maka kira-kira yang akan anda lihat seperti gambar dibawah.Kebanyakan sensor di pasaran memakai format RGBG, pixel untuk menangkap warna hijau lebih banyak. Pixel-nya sendiri tidak berwarna, diatas pixel ada coating warna.Berhubung kamera digital mempunyai sensor yang lebih kecil dari film, maka panjang fokal lensa pun tidak berlaku seperti layaknya pada kamera film biasa. Idealnya sih seharusnya ukuran sensor harus setara dengan film, tetapi itu merupakan hal yang tidak memungkinkan. Sebab untuk membuat ukuran sensor sebesar film maka harga kamera anda bisa selangit (Hanya Canon 1Ds mempunyai sensor sebesar 35mm, harganya $$$$). Lagipula dengan ukuran yang mini seperti sekarang saja, kualitas gambar sudah lumayan memuaskan.Plus and Minus of a Digital CameraSeperti yang saya utarakan terlebih dahulu bahwa "Digital is the future", maka saya akan memberikan beberapa point plus dari Kamera digital dibanding kamera yang memakai film:- Kalau dihitung secara jangka panjang, kamera digital lebih murah. Sebab tidak perlu membeli film, dan hasil potret yang gagal bisa dihapus dan tinggal mengambil shot lagi.- Hasil potret real time, kita dapat melihat hasil apakah bagus apa tidak.- Karena format sudah digital maka untuk proses editing sangat mudah, hanya perlu dihubungkan ke komputer dan diedit (Scanner sudah tidak diperlukan lagi)- Memory kamera digital sangatlah besar sehingga anda tidak perlu terlalu cepat membeli memory baruTidak ada teknologi yang sempurna, maka dari itu saya perlu memberikan point minus dari kamera digital:- Kamera digital cenderung memiliki shutter lag yang lebih lama dibanding kamera jenis film.- Harga kamera yang cenderung mahal dibanding kamera jenis film- Karena ukuran sensor yang tidak sesuai dengan kamera jenis film, maka untuk mendapatkan wide angle shot pada DSLR diharuskan membeli lensa yang lebih lebar.Sekian dulu artikel ini, semoga pengetahuan ini dapat berguna bagi para pembaca. Semua pengetahuan yang ada disini saya ambil dari berbagai sumber, salah satu sumber yang menurut saya sangat lah lengkap adalah dpreview.com. Silahkan mengunjungi site ini, untuk pengetahuan kamera digital bisa klik link "Glossary". Untuk buku yang membahas Digital Photography, saya sarankan buku dari Tom Ang berjudul "Digital Photographer's Handbook". Buat anda yang ingin belajar mengenai basic photography saya bisa menyarankan "National Geographic Photography Field Guide: Secrets to Making Great Pictures".


Kali ini saya mencoba untuk menjelaskan lebih jauh mengenai kamera digital. Untuk artikel kali ini saya akan membandingkan kamera digital dengan kamera analog. Topik yang akan dibahas sebagai berikut: - Ukuran sensor pada kamera digital dibanding dengan kamera analog - Penggunaan ISO pada kamera digital - ‘Focal Length’ antara DSLR dengan SLR Ukuran sensor pada kamera digital dibanding dengan kamera analog Seperti yang saya utarakan pada artikel sebelumnya. Kamera digital kelas prosumer dan consumer mempunyai sensor CCD/CMOS yang sangat kecil. Sebagai perbandingan silahkan lihat gambar di bawah.



Kamera yang menggunakan 1/1.8 sensor biasanya adalah kamera kelas consumer, contoh: Olympus C-5060. Kamera yang menggunakan 2/3 sensor, contoh: Sony F717, Nikon 5700. Kelas DSLR menggunakan sensor yang lebih besar, seperti Canon D60 menggunakan 4/3 format. Sampai saat ini hanya satu digital kamera yang mempunyai sensor sebesar 35mm, kamera itu adalah Canon 1Ds. Jika anda ingin tahu ukuran sensor kamera anda, silahkan check ‘data sheet’ kamera anda, bisa didapat dari http://www.dpreview.com/ atau http://www.imaging-resource.com/ Total pixel antara sensor 2/3 dengan 4/3 bisa saja sama, contoh: 4 Megapixel (4 juta pixel). Yang membedakan keduanya adalah ukuran pixel. Semakin luas suatu sensor maka makin besar pula pixelnya. Pixel yang lebih besar akan menguntungkan pada penggunaan ISO yang tinggi. Penggunaan ISO pada kamera digital Dengan menggunakan sensor yang lebih besar maka otomatis pixelnya juga lebih besar. Pixel yang lebih besar memungkinkan kita untuk menggunakan ISO yang lebih tinggi. Maka dari itu jangan kaget apabila beberapa DSLR mempunyai ISO setting sampai 3200. Dimana pada kamera kelas prosumer seperti G3, ISO 400 akan menghasilkan foto dengan noise yang sangat tinggi. Ini semua disebabkan oleh sensor size, semakin besar semakin bagus. Tetapi tentu saja sensor itu salah satu component yang paling mahal di kamera digital. Berhubung kamera digital tidak mempunya film maka setting ISO dilakukan oleh perangkat elektronik di dalam kamera anda. Sewaktu anda merubah ISO value misal dari ISO100 ke ISO200, kepekaan sensor didalam kamera anda ditingkatkan. Dan di dalam dunia elektronik, nothing is perfect. There is always something to trade. Sewaktu ISO ditingkatkan sensor kamera anda diset supaya lebih sensitif terhadap cahaya. Misalkan sewaktu menggunakan ISO100 anda harus menggunakan shutter speed 1/15, apabila anda menaikkan ISO rating menjadi ISO200 maka otomatis shutter speed menjadi 1/30 (1 stop difference). The down side is, kalau sensor dinaikkan maka sensor akan mudah menangkap ‘noise’. ‘noise’ berwujud bercak-bercak di dalam foto anda, ‘noise’ akan lebih terlihat jelas apabila anda mencoba mengambil shot pada situasi minim cahaya. Contoh lain ibarat kalau anda mendengarkan lagu dengan perangkat Hi Fi, jika volume kecil maka suara yang muncul akan jernih. Tetapi bila anda mencoba menaikkan volume, maka pada suatu saat suara yang muncul akan terdengar pecah. Kira-kira seperti inilah noise itu. ‘Focal Length’ antara DSLR dengan SLR Penjelasan dibawah ini hanya berguna bagi pemilik SLR dan DSLR, kamera digital kelas prosumer tidak perlu pusing tentang ‘focal length’ sebab lensa yang ada di kamera terpasang mati. Apabila anda membeli lensa tele 100mm dan dipasang ke kamera SLR anda, maka 100mm itu adalah ‘focal length’ lensa anda. Tetapi bila anda memasang lensa yang sama pada DSLR contoh Canon 300D, maka ‘focal length’ yang didapat bukan 100mm, tetapi 160mm (100mm x 1.6). Sebenarnya ‘focal length’ lensa anda tetap 100mm, tetapi ‘angle of view’ akan membuat hasil foto anda seolah-olah dihasilkan dari lensa 160mm. Ini berhubung dengan ukuran sensor kamera anda yang lebih kecil dari 35mm. Hal ini hanya berlaku pada kamera yang mempunyai ukuran sensor lebih kecil dari 35mm, Canon 1Ds tidak mengalami hal diatas. Agar lebih jelasnya, silahkan lihat di foto dibawah ini.


Full frame adalah hasil dari lensa 100mm yang dipasang pada Canon 1Ds atau kamera SLR. Kotak kecil didalamnya, adalah hasil yang anda dapatkan bila kita memasang lensa yang sama pada Canon 10D atau 300D. Sepintas kita berpikir bahwa kita mendapat untung, sebab dengan membeli 100mm maka dapat menghasilkan 160mm. Memang betul, cuman ini semua hanya ilusi sebab panjang fokal lensa anda tetap 100mm, hanya gambar yang dihasilkan seolah-olah berasal dari 160mm lensa. DOF (Depth of Field) yang dihasilkan juga sesuai dengan perhitungan lensa 100mm, bukan 160mm. Dan satu lagi hal yang membikin sebagian orang kesal apabila anda suka memakai lensa lebar (Wide angle lens), maka anda harus membeli lensa yang lebih lebar untuk mendapatkan efek yang anda inginkan. Bayangkan suatu shot harus menggunakan lensa 24mm di kamera SLR, tetapi sewaktu anda memasang 24mm ke DSLR anda maka ‘effective focal length’ menjadi 38.4 (24mm x 1.6). Jadi untuk mendapatkan 24mm, anda harus membeli lensa lebih lebar. Tentu saja semakin lebar suatu lensa maka semakin mahal, maka bagi pecinta wide angle shot bakal kecewa dengan keterbatasan ini. Kecuali anda menggunakan Canon 1Ds yang mempunyai sensor sebesar 35mm, so what you see is what you get.
Conclusion Kelihatannya dari awal yang kita baca cuman sisi negatif melulu dari kamera digital. Sebenarnya kalau mau lihat sisi positif, maka sisi negatif itu bisa dilupakan. Bayangkan anda tidak perlu membeli film lagi, tidak perlu capek-capek scan film/slide, tidak perlu pusing soal ISO dan masih banyak lagi. Akhir kata, as I always said. Digital is the future, sooner or later film will be phase out. Mungkin film masih bisa survive, tetapi hanya sebagai pendamping digital.

Wednesday, July 18, 2007

Foto - Foto Kolase






Kami juga siap mendesign foto - foto digital anda dan dimasukkan kedalam Album anti gores 40 halaman.

Sunday, July 15, 2007

Memperbaiki Tone Nikon D70 dengan Custom Curve

Artikel ini ditulis sekedar untuk sharing mengenai cara meningkatkan kemampuan D70. Seperti yang mungkin dirasakan oleh saya sendiri dan sebagian teman-teman pemilik kamera DSLR Nikon D70, yaitu warna yang dihasilkan Nikon D70 terkadang terlihat 'mati', memang warna yang dihasilkan D70 natural, namun belum bisa membuat gambar tersebut menjadi 'hidup'.
Masalah ini mungkin dapat diatasi dengan melakukan berbagai custom setting, seperti white balance, saturation dan color space, namun cara ini akam memakan waktu dan tenaga yang tidak sedikit.
Setelah cari sana sini (lewat google :P) ternyata ada cara yang lebih mudah untuk ditempuh, yaitu dengan menggunakan fasilitas custom curve yang dimiliki oleh D70, ternyata warna D70 bisa di tuning agar sesuai dengan keinginan kita dengan menggunakan software Nikon Capture 3 ke atas (yang saya gunakan adalah Nikon Capture Versi 4.1 - Trial).
Sebagai permulaan, anda bisa coba untuk men-download curves yang sudah saya kumpulkan dari berbagai sumber (download curve disini). Jika anda sudah cukup mengerti mengenai cara kerja curve dan efeknya terhadap gambar yang dihasilkan, adapun dapat membuat custom curve anda sendiri dengan menggunakan software Nikon Capture.
Note: penggunaan custom curve hanyalah sebagai metode alternatif, dan untuk mengurangi beban Post processing bagi fotografer, yang biasanya mengambil ratusan gambar dalam satu sesi, dan kemudian melakukan post processing di software image editing (kebanyang kan repotnya ngurusin ratusan foto satu per satu, hanya untuk memperbaiki tone warna dari foto tersebut :P, dan coba bayangkan betapa terbantunya sang fotografer, bila curve yang biasa digunakan langsung di apply ke foto oleh si kamera sendiri :D)
Ok, setelah anda men-download curve tadi, extarct curve tersebut ke sebuah folder, dan ikuti langkah 2x berikut, untuk meng-install curve tersebut ke D70 anda.
1. Nyalakan D70 anda, dan masuk ke menu, pilih menu tools (diwakili oleh icon berbentuk kunci pas - berwarna kuning) lalu pilih menu USB, dan set menu USB tersebut menjadi PTP (secara default D70 menggunakan setting USB 'Mass Storage'), keluar dari menu dan matikan kamera anda.
2. Hubungkan konektor USB kamera anda ke komputer, kemudian nyalakan kamera anda. (biasanya akan muncul dialog installsi hardware baru, tunggu sampai dialog tersebut selesai)
3. Ketika anda meng-install software Nikon capture, maka anda akan menemui 2 jenis software yaitu: - Nikon Capture Camera Control - Nikon Capture Editor Untuk kepentingan installasi curve, kita akan menggunakan Nikon Capture Camera Control.
4. Ketika kamera sudah terhubung ke komputer, jalankan program Nikon capture Camera Control.
5. Pilih menu 'Camera' - 'Edit Camera Curve', maka akan muncul dialog window, yang berisi, informasi curve yang digunakan kamera dan sebuah sample image.
6. Klik tombol 'Load...' kemudian pilih salah satu curve yang sudah anda extract.
7. untuk meng-install curve tersebut ke dalam kamera anda, klik tombol 'OK' dibawah sample image. (mungkin anda akan melihat bahwa warna sample image terlihat tidak bagus, abaikan saja, karena warna yang akan dihasilkan kamera anda akan sangat berbeda denagn warna pada sample image).
8. Setalah Klik OK, maka windowedit curve akan tertutup, matikan software nikon capture anda, baru kemudian matikan kamera anda, dan cabut kabel usb yang terhubung di kamera.
9. Nah sudah bisa dicoba deh D70 dengan Curve baru yang sudah di Install :) dan Rasakan Bedanya :D
URL yang cukup berguna untuk informasi lebih lanjut mengenai Custom Curve Nikon D70: http://members.aol.com/bhaber/D70/curves.html http://fotogenetic.dearingfilm.com/index.html
http://www.pbase.com/oldskoo1/the_curves

Oleh Dharma Saputra

Tuesday, July 10, 2007

Membeli kamera atau lensa baru dan bekas

Banyak fotografer lebih suka membeli kamera atau lensa dalam keadaan baru. Ini adalah suatu hal yang wajar, karena kita akan mendapatkan model terbaru, kondisi peralatan yang prima, dan umumnya mendapatkan masa garansi. Bila budget yang tersedia mencukupi, maka membeli kamera atau lensa dalam keadaan baru mungkin adalah pilihan terbaik.

Tips membeli kamera atau lensa baru:

  1. Tentukan fasilitas kamera yang diperlukan, tipe dan merek yang diinginkan sesuai dalam
    rentang budget yang tersedia. Untuk mendapatkan gambaran rentang harga, hubungi beberapa toko kamera melalui telepon.
  2. Kunjungi toko kamera dan coba beberapa tipe kamera pilihan anda, untuk merasakan kamera
    yang akan anda beli. Pemilihan tipe dan merek adalah sangat bersifat personal/pribadi
    sehingga anda sebaiknya mencoba sendiri semua segi pemilihan yang penting untuk anda
    (spesifikasi, ergonomi, kontrol, kemudahan pemakaian).
  3. Dapatkan lensa terbaik sesuai budget anda. Lensa adalah bagian kamera yang akan
    membentuk dan menentukan kualitas hasil foto, sehingga (menurut pendapat saya) lebih
    penting dari body kamera yang digunakan. Untuk mendapatkan informasi mengenai kualitas
    lensa, lihat di PhotoZone atau Photodo web site.

Tetapi membeli dalam keadaan bekas pakai/secondhand patut pula dipertimbangkan. Selain
harga yang lebih murah, ada beberapa alasan untuk membeli kamera atau lensa dalam keadaan
bekas, diantaranya: anda menginginkan kamera atau lensa dengan spesifikasi tertentu tetapi
terlalu mahal untuk membeli dalam keadaan baru; atau anda menginginkan backup kamera
(untuk digunakan dengan lensa atau film jenis lainnya). Berikut ini adalah panduan untuk
membeli kamera atau lensa dalam keadaan bekas (khususnya kamera auto fokus):

Tips membeli kamera bekas:

  1. Periksa keadaan umum kamera, yang akan memberikan gambaran bagaimana pemilik sebelumnya
    merawat dan menggunakan kamera tersebut. Hindari kamera dengan cacat luar ataupun cacat
    dalam yang nyata.
  2. Nyalakan kontrol kamera, dan cek apakah seluruh fungsi dan tombol kontrol atau dial
    kamera berjalan dengan semestinya.
  3. Coba fungsi autofokus dengan sebuah lensa untuk tes, apakah berjalan dengan baik dan
    akurat.
  4. Lihat dari viewfinder kamera dan pastikan gambar dan viewfinder display (bila ada)
    terlihat jelas. Sedikit partikel debu atau kotoran umum didapati pada kamera bekas, tetapi
    adanya cacat/benda asing di viewfinder harus dihindari.
  5. Cek kondisi dan fungsi LCD panel. Cobalah mengganti mode eksposure untuk memastikan
    setiap mode terdisplay dengan baik.
  6. Cek shutter pada berbagai speed/kecepatan, dari yang tercepat sampai terlambat. Anda
    seharusnya akan dapat mendengar adanya perbedaan waktu sesuai dengan pengesetan speed
    shutter pada proses pemotretan.
  7. Lepaskan lensa dan lihat bagian dalam kamera dari arah depan. Cek kondisi kaca/mirror
    apakah tidak terdapat goresan atau retakan dan apakah kaca membuka/menutup kembali dengan
    semestinya dalam setiap proses pemotretan. Juga periksa kondisi focusing screen (di bagian
    atas kaca) apakah dalam kondisi baik dan bebas goresan.
  8. Lihat keadaan mount lensa pada body. Pastikan tidak terdapat distorsi atau kerusakan
    mount karena benturan, dan seluruh pin atau gear/lever pada mount dalam keadaan baik.
  9. Buka bagian belakang kamera, dan lihat keadaan shutter. Seluruh blade shutter harus
    dalam keadaan rata dan tanpa goresan. Set kamera pada speed lambat, dan tekan tombol
    shutter untuk melihat dan memastikan shutter dapat terbuka dalam keadaan penuh. Cek juga
    kondisi rail film dan pressure-plate, yang harus dalam keadaan bebas dari goresan.
  10. Mintalah bantuan petugas/penjual untuk memasang tes film di dalam body. Cek apakah
    kamera me-load, wind, dan rewind film dengan semestinya.
  11. Bukalah kompartemen baterai, untuk meyakinkan tidak terdapat kerusakan kontak pin yang
    disebabkan oleh baterai bocor.
  12. Bila mungkin, mintalah masa garansi (1 atau 3 bulan) dari penjual.
Tips membeli lensa bekas:
  1. Periksa keadaan umum lensa, dan hindari lensa dengan cacat yang nyata.
  2. Goyangkan lensa. Tidak terlalu keras, tetapi cukup kuat untuk mendengar dan mendeteksi
    bila ada elemen gelas di dalam lensa yang tidak terpasang dengan baik atau bahkan
    terlepas.
  3. Periksa bagian depan dan belakang lensa dengan seksama. Hindari lensa dengan elemen
    depan/belakang yang tergores, retak, atau pecah kecil/gumpil.
  4. Lihat bagian dalam lensa ke sumber cahaya (misalnya lampu). Sedikit debu merupakan hal
    yang umum, sedikit jamur (kemungkinan besar) dapat dibersihkan atau diservis. Sebaiknya
    hindari lensa dengan jamur yang banyak dan tebal, atau mempunyai partikel asing di
    dalamnya.
  5. Pasang lensa pada kamera (sebaiknya milik anda) dan yakinkan seluruh fungsi kamera dan
    lensa berjalan dengan semestinya.
  6. Periksa apakah aperture dalam lensa menutup sesuai pengesetan dalam pemotretan. Buka
    bagian belakang kamera, set dalam mode Bulb, dan tekan tombol shutter. Lakukan tes ini
    pada seluruh rentang aperture lensa.

  7. Periksa fungsi autofokus pada lensa, apakah berjalan dengan semestinya dan akurat.
  8. Periksa manual fokus ring pada lensa. Yakinkan manual fokus ring berfungsi dengan baik,
    tanpa suara atau sendatan pada mode manual fokus.
  9. Bila lensa tipe zoom, periksa apakah mekanisme zoom lensa berjalan dengan halus dan
    lancar. Hindari lensa dengan mekanisme zoom yang tersendat-sendat, terlalu keras, atau
    terlalu kendor.
  10. Periksalah filter thread pada bagian depan lensa, dan yakinkan tidak terdapat kerusakan
    atau kemacetan. Bila ragu-ragu, lakukan tes dengan memasang sebuah filter pada lensa
    tersebut.
  11. Bila mungkin, mintalah masa garansi dari penjual.

    Disarikan dari pengalaman pribadi, dan beberapa buku referensi tambahan (Canon EOS Systems Guide, Photographer handbook)
Oleh: Bambang Suroyo